RSS

Pindahan Server pionize.com

Akhirnya setelah membeli domain dan server lokal sendiri, blog rencananya akan saya pindahkan. Tapi ini juga masih galau apakah ke subdomain blog.pionize.com atau ke pionize.com.

Sementara mungkin masih ke pionize.com saja deh sambil nunggu ngerjain proyek produk pribadi. Mungkin nanti yg dipakai untuk blog yang subdomain, yg domain utama untuk proyek pribadi saja😀

Kemudian kegalauan berikutnya adalah server yg baru trafic internasionalnya terbatas (*sok sudah populer saja:mrgreen: ) dan masih belum tahu juga apakah kecepatan server yang baru sesuai harapan..Semoga saja masih sama cepatnya dengan server wordpress itu sendiri.

Dan berikutnya tampaknya saya akan memulai menulis banyak hal, tidak terbatas pada motor saja. Mungkin hal-hal seputar pengalaman pribadi apa saja akan saya masukkan. Dan semoga mood menulis saya tidak luntur.😀

Untuk pionize.wordpress.com ini sendiri tidak akan saya deaktifkan karena masih banyak gambar-gambar yang kemarin gagal dipindah ke server saya sendiri -_-, jadi masih semacam tempat buat arsip-arsip lama😀

 
Leave a comment

Posted by on 22 February 2014 in Uncategorized

 

Tags: , , , , ,

Selamat Natal 2013

Selamat Natal

Selamat Natal

Selamat Natal

Selamat Natal 2013 bagi teman-teman semua yang merayakannya. Semoga damai dan sukacita bersama kita selalu, dan kitanya tahun depan 2014 kita menjadi seseorang yang lebih luar biasa lagi.

Tuhan memberkati

 
Leave a comment

Posted by on 25 December 2013 in Uncategorized

 

Tags: ,

Review Sony Xperia SL dan Xperia SP (2)

Pindah ke rumah baru di pionize.com

 

Langsung dibuat deh daripada biasanya kalau crita bersambung malah ga kelar-kelar..hehehe😆

Xperia SP

Karena negara api menyerang dan harus Xperia SL menginap di SSC dalam batas waktu yang tidak ditentukan mungkin sampai 4 bulan, akhirnya saya memutuskan membeli Xperia SP.

Setelah membaca berbagai review dan mencari-cari kejelekan Xperia SP ini, akhirnya saya tertarik dan menebus Xperia SP warna merah. Kesan pertama, cakep banget nih. Warnanya juga bagus, karena saya sudah bosan dengan warna putih, dan warna hitam terkesan biasa saja.😀

Ada frame alumunium di sisi tepinya, ya meski tidak terlalu kelihatan sih, tapi begitu dipegang berasa beda. Tapi karena frame alumunium ini, jadi beratnya cukup terasa, padahal Xperia SL saja beratnya cukup terasa apabila dibandingkan Nokia Lumia 720.

Karena terkenal dengan performance Xperia SP yang beast, alias kejam, saya mulai melakukan testing dan benar! Saya tidak merasakan lag sama sekali baik pada saat main game HD maupun ketika keluar dari game tersebut dan kembali ke menu. Pada Xperia SL biasanya berasa lagnya, bahkan kadang urutan layar di menu berubah menjadi “own order”.

 photo Screenshot_2013-12-15-10-38-48_zpsb0fzikyu.png

Xperia SP malah menang score benchmark lawan Xperia Z yang lebih mahal😛

 photo Screenshot_2013-12-15-10-42-41_zpslq02y4uu.png

Performa Dual Core nya bahkan mengalahkan Samsung Galaxy S3 yang sudah quadcore, dan masih bisa bersaing dengan Quad Core lainnya😀

Yang membuat menarik lainnya adalah lampu notifikasi LED transparan di bagian bawah Xperia SP, yang warnanya bisa berganti-ganti sesuai tema warna dominan lagu atau album gambar. Ketika memutar lagu, maka lampu LEd akan berkedip mengikuti irama lagu, ya meski cuma buat iseng-iseng saja sih. Kalau di Xperia SL, bagian lampu LED transparan hanya berwarna putih, dan lampu LED notifikasi hanya kecil di atas.

 photo IMG-20131214-WA0003_zpsspjmaugy.jpg

Tapi tentu Xperia SP ini bukannya tanpa kekurangan. Kekurangan pertama yang saya rasakan adalah soal speakernya. Suaranya kurang keras, berbeda sekali dengan Xperia SL yang cukup keras, untuk kualitas suaranya juga kurang dibandingkan Xperia SL.

Kekurangan lainnya menurut saya, tentunya kameranya. Mungkin agak kurang adil mengingat kamera Xperia SL 12MP harus saya bandingkan dengan kamera Xperia SP yg hanya 8MP. Meski 8MP, ternyata hasil kameranya tidak bagus (atau saya yang tidak bisa ngefoto ya😆 ). Warnanya cenderung over-saturated ketika menggunakan mode HDR di normal mode. Sedangkan kalau menggunakan mode Superior Auto, resolusi maksimal kameranya hanya 7MP, dan warnanya kurang bagus dan cukup banyak noise.

Ada lagi kekurangannya, yaitu di sektor layar. Entah mengapa saya merasa warna layarnya kurang cerah dan kurang tajam dibandingkan Xperia SL. Warna putihnya kurang berasa warna lainnya cenderung agak pucat. Atau mungkin ini pengaruh screen guard yang saya beli skalian sewaktu membeli Xperia SP ini ya?*wah kalau screen guardnya ini gara-gara mbaknya yang jaga, jadi terhanyut ngeiyain aja nih -_- #eh

Ketika dibawah sinar matahari, waduhh parah banget nih, layarnya hampir tidak keliahatan, mungkin memang pengaruh screen guardnya😦

Nah ternyata ada lagi nih kejelekannya -____-

Meski saya sudah berusaha mencari-cari kejelekan Xperia SP, ternyata ada beberapa hal yang saya lewatkan

1. Banyak produk Sony dalam kasus ini Xperia SP, Xperia Z, dan Xperia ZL yang ada cacat di modul kameranya sehingga banyak kasus terjadi Black Spot Syndrome (BSS). BSS ini menyebabkan ada seperti kotoran atau dead pixel di layar/gambar sewaktu mengambil gambar lewat kamera, entah berfoto ria atau video.

Solusinya? Ya cuma ke SSC lagi, minta servis atau replace unit baru yang artinya nginaaaaapp lamaaaa😥

2. Masih berhubungan tentang kamera. Konon lapisan UV filter yang ada di lensa/kaca kameranya kalau sudah mulai menipis atau tergores maka menyebabkan kamera menjadi blur atau tidak bisa fokus bahkan berkabut. Tapi tidak menutup kemungkinan penyebabnya juga dari lensa kameranya yang tergores-gores juga😦

Solusinya? Kalau yang ini konon katanya bisa memakai Brasso (pembersih logam), teteskan di lensa kacanya dan gosok perlahan dengan kain lembut. Tujuannya sih untuk meratakan goresan dan menghapus UV filternya.

Kok banyak banget masalahnya ya? Apakah saya menyesal membeli Sony, khususnya Xperia SP?

Tentu tidak, apalagi sudah terbeli dengan harga lumayan.:mrgreen:

Saya masih mengagumi performa Xperia SP yang hampir tanpa lag sama sekali😀.

 photo IMG-20131214-WA0006_zpsdbu8saua.jpg

Untuk saya pribadi, sebenarnya saya mengincar merk atau vendornya. Maksudnya? Biasanya ketika ada update ICS -> JB -> Kitkat, jika kita membeli merk yang kurang terkenal cenderung tidak ada support software dari after salesnya alias tidak mendapat update yang berarti.

Xperia SL dari ICS 4.0 mendapat update ke JB 4.1.2, meskipun masih ngebug sampe di firmware terakhir sih dan konon tidak mendapat update JB 4.2 dan 4.3 karena Qualcomm nya menghentikan support untuk driver processor yang dipakai oleh Xperia SL. (tentu Xperia SL tidak sendirian karena beberapa HP dari HTC yang memakai processor yang sama pun tidak bisa update ke JB 4.2 dan 4.3)

 photo IMG-20131214-WA0005_zpsfajyzzsi.jpg

Xperia SP dari JB 4.1.2 katanya mendapat update ke JB 4.3 dan nantinya akan mendapat update Kitkat 4.4, meskipun JB 4.3 yang harusnya release bulan ini belum keluar-keluar juga -_-

Kalau ditanya apakah Sony recommended saya akan menjawab jika Anda mencari HP yang harga sebanding dengan speknya alias tidak overprice, maka ya Sony termasuk worth to buy, apalagi desain HP sony biasanya bagus dan berkesan premium. Tapi jika anda tidak beruntung dan tidak siap berurusan dengan Sony Service Center, maka tidak disarankan:mrgreen:

Sumber gambar: punya sendiri dan hasil cari google😀

 
6 Comments

Posted by on 15 December 2013 in Gadget, Hobby

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

Review Sony Xperia SL dan Xperia SP (1)

Pindah ke rumah baru di pionize.com

 

Daripada ga ada update blog, nulis ah meski bukan tentang motor.:mrgreen: , review ringan ala kadarnya saja deh, ga usah berat2😛

Kali ini mau bahas Gadget, HP Sony😀. Ya, sebagai fansboy dari jaman Sony Ericsson sampai sekarang jadi Sony, baru skali sih pindah ke lain merk, tepatnya waktu beli android pertama kalinya, yaitu Samsung Galaxy Y🙂

Kenapa Sony?

Sony Xperia SL

Kalau kita sering browsing, pasti sering lihat atau dengar keluhan di kaskus atau surat pembaca. Sering banget sih ya tidak juga ya, tapi lumayanlah:mrgreen: . Keluhan yang paling terutama adalah kualitas service center Sony, yang kalau sudah nginap pasti berbulan-bulan lamanya.

Awal bulan Mei, saya memutuskan beli Sony untuk pertama kalinya, ya hitung-hitung mau ngrasain HP mahal, yang dipakai untuk waktu yang lama, setelah browsing dan mencari info, pertama niatnya sih ingin membeli Xperia Sola, yg pada saat itu skitar 2,5-3juta. Eh setelah mencari-cari di berbagai toko, kok sudah tidak produksi lagi. Bingung juga, kok lifetime produk Sony di pasaran bentar banget ya?bukannya Xperia Sola blm lama keluar. Padahal menurut saya Sola sangat worth to buy untuk harga dan speknya, bentuknya cantik pula😀

Berhubung desperate dan galau😆 akhirnya memutuskan yang agak mahalan dikit skitar 4jt, Sony Xperia SL., lagi-lagi saya jatuh cinta pada bentuk dan spesifikasinya, yang menurut saya dengan harga segitu sudah cukup bagus, pertimbangan pertama tentunya bentuk fisik Xperia SL yang cantik, spek kamera 12MP, 32GB storage (24GB available) dan layar HD

Sony-Xperia-SL

Nah ini yang membuat saya suka dengan produk Sony, selain biasanya spek dan harganya terjangkau, bentuknya biasanya cantik-cantik, sedikit berbeda dengan Samsung yang menurut saya pribadi bentuknya biasa-biasa saja dan kurang inovasi, bahkan Galaxy S4 juga gambaran bentuknya kurang premium alias tidak jauh berbeda dengan Galaxy Y saya dulu. Tapi harus diakui service center Samsung jempolan dan sangat bagus🙂

Pada saat perburuan, lagi-lagi, Xperia SL sudah tidak ada di pasaran, akhirnya beli online meski sedikit lebih mahal.😛

Kesan pertama pada saat pegang langsung, WOW. Bentuknya sangat elegan.

Kameranya bagus, tapi sdikit kecewa karena Sony terlalu mengkompres gambarnya, jadi seakan-akan 12MP nya kurang optimal, sedikit ada noise di ruang gelap. Hasil kamera cenderung natural, tidak over-saturated tapi tidak terlalu pucat juga.

Untuk main game HD, nah ini kadang sedikit lag, apalagi kalau pas kluar dari gamenya dan kembali ke home screen, pasti ada jeda yang terasa.

Yang paling saya sukai dari Xperia SL ini, bisa saya pakai untuk nonton film HD, gambar dan detilnya bagus, jadi bisa buat nonton sambil tiduran:mrgreen:, suara speakernya pun cukup keras dan bagus😀

Tapi semua kegembiraan itu berubah sejak negara api menyerang😆, pada awal bulan november karena sesuatu hal, HP saya brick, tapi tidak matot dan tidak hidup, mati sungkan hidup tak mau -_____-

Hang di logo Sony, saya coba force restart dengan vol up + power, dan ternyata… malah nyangkut, logo Sony hilang dan layar LCD gelap tapi layar LCD nya masih nyala. Saya tunggu sampai baterai habis dan coba charge ulang, dan momen-momen menegangkan pun dimulai, semua kekuatiran saya mulai memuncak *halah

Tidak ada respon untuk charge, alias baterai tidak bisa dicharge😦😥 …😥 T.T

Dan saya pun akhirnya merasakan kejamnya Sony Service Center, sampai saat ini belum ada kejelasan kapan HP saya selesai diperbaiki karena harus dikirim ke pusat di Jakarta, bingung juga sebesar Sony kenapa sparepart kok sepertinya susah dan harus menunggu lama. Yang pasti saya hanya diberitahu kira bisa makan 3-4 bulan. T.T

Eh..eh..tapi ternyata saya belum kapok dengan Sony *masih fansboy, dan akhirnya saya membeli lagi Xperia SP, dengan harapan waktu Xperia SL kelar service bisa langsung dijual🙂

Demikian review ga jelas dan banyak curhatnya:mrgreen:, untuk Xperia SP pada kesempatan berikutnya saja..hehehe…

Maaf kalau asal tulis😆

Sumber gambar dari Google

 
2 Comments

Posted by on 14 December 2013 in Gadget, Hobby

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,

Lo Siaw Ging: Dokter Tanpa Tarif

Terharu bacanya..masih ada dokter yg seperti ini🙂

Solo Grafi

Nama lengkapnya Lo Siaw Ging, namun ia lebih dikenal dengan panggilan dokter Lo. Di Solo, Jawa Tengah, dokter keturunan Tionghoa berusia 78 tahun ini populer bukan hanya karena diagnosa dan obat yang diberikannya selalu tepat, tapi juga karena ia tidak pernah meminta bayaran dari pasiennya.

View original post 1,114 more words

 
Leave a comment

Posted by on 29 November 2013 in Uncategorized

 

Mengapa Pemkot Jogja Takut Seni?

Ternyata Jogja kini seperti ini😥
JOGJA ORA DIDOL!

warga berdaya

Kurang dari 24 jam! (7/10) – Foto: Twitter

Gambar atas adalah kondisi salah satu bangunan di sudut perempatan Pojok Beteng Wetan, dini hari Senin (7/10). Seni mural tersebut digambar oleh sejumlah warga sebagai rangkaian dari Festival Seni Mencari Haryadi.

Gambar bawah adalah kondisi bangunan sama di hari sama, pada tengah hari. Sejumlah pekerja yang diawasi oleh Satpol PP menutup tulisan “JOGJA ORA DIDOL” dengan cat hitam.

Malam kedua (8/10) – Foto: Twitter

Malam harinya, dinding hitam tersebut dimural lagi dengan tulisan sama, menggunakan tinta putih. Tentu keesokan harinya tulisan itu segera saja lenyap kembali dengan cat hitam.

Seorang warga yang melakukan penulisan ulang ini ditangkap dan diperkarakan secara hukum. Kamis (10/10) pukul 08.30, kasus tindak pidana ringan tersebut akan disidangkan. Ironis, seorang seniman ditangkap di kota seni dan budaya!

*

JOGJA ORA DIDOL merupakan pesan Warga Berdaya kepada Pemkot Jogja, untuk bekerja serius menata kotanya. Pesan ini dianggap Pemkot…

View original post 47 more words

 
Leave a comment

Posted by on 10 October 2013 in Uncategorized

 

1,5 tahun bersama Pulsar “Big Red” P220

Pindah ke rumah baru di pionize.com

 

Berhubung tidak ada ide mau nulis apa, ya lagi-lagi review motor saja deh:mrgreen:

Kali ini saya ingin mereview si merah besar, pulsar 220, yg ATPM nya kayaknya mau kabur😆
Langsung saja deh, motor ini awal belinya tidak jelas, Agustus 2011 ortu tiba-tiba nawarin mau beli motor baru apa untuk menggantikan tiger 96, pas itu baru hot nya pulsar 220, jadi iseng-iseng mampir ke dealer Bajaj yang kebetulan di depan kantor ortu.

Ga pakai lama akhirnya dibelilah pulsar 220 warna merah, (bosan warna gelap, cari warna mencolok deh😆 ) yang kemudian saya namai Big Red (skalian sebagai penggemar Liverpool:mrgreen: ). Eh tapi tanpa disangka malah ini motor jatuh ke tangan saya, padahal saya sendiri ada scorpio. Walhasil saya harus berselingkuh dengan p220 ini:mrgreen:, dan menghidupi mereka berdua (modalnya banyak dah), untung tidak lama dari itu saya sudah bekerja jadi tidak perlu meminta uang ke ortu lagi.😀

kembar tapi tak sama :v

kembar tapi tak sama :v

Nah untuk beberapa poin penting selama 1,5 taun pemakaian si big red:
1. Impresi pertama memakai motor ini adalah BERAT!!
Saya biasanya memakai scorpio yang ringan dan mudah ditekuk-tekuk karena sumbu rodanya yang relatif pendek untuk motor sport, eh ini pulsar malah kebalikannya. Beratnya 150kg (berat kosong CMIIW), sumbu roda panjang, dan sudut putar stang sangat melebar, butuh waktu yang agak lumayan untuk membiasakan diri😀

2. Lampunya wow banget!
Awalnya di beres ragu, lampu kok kecil gitu mana terang. Eh ternyata itu lampu projector😆
Dengan lampu 2 x H7 55watt yang cuma ada di ninja 250 dan beberapa mobil mewah, plus lampu projector untuk lampu dekat, tidak perlu ada rasa khawatir jalanan tidak terlihat.😀 Meski kadang terasa lampu kurang terang dibanding motor-motor sport lain, karena dokus lampu ini menyebar, tapi begitu masuk ke jalanan yang gelap gulita langsung berasa efek projector plus lampu H7 nya. mantab!
Lampu jauhnya juga asyik, meski penerangannya tidak terlalu melebar seperti lampu dekat yang menggunakan projector

3. Performanya asyik, seperti yang pernah saya ulas di dyno dan artikel komparasi Pulsar 220 vs Scorpio G
Tarikan awal agak lemot, berbanding terbalik dengan karakter saya yang menyukai torque dibanding daya kuda, tapi setelah 5000-6000 rpm, tidak ada gejala penurunan tenaga. Akselerasi masih mudah untuk naik dibanding scorpio.😀

p220 - Andrew

4. Kenyamanan dan kestabilan berkendara dari pulsar 220 ini sangat mengagumkan, mungkin karena beratnya yang wow itu yang membuat pulsar ini begitu stabil bahkan saat kecepatan tinggi. Kadang-kadand tidak terasa sudah mencapai keceptan tinggi, bahkan saat pergi ke solo bersama nyonya tahu-tahu speedometer sudah menunjukkan 120kpj dan itu masih bisa naik lagi tapi nyali yang ga ada. Begitu sadar sudah 120kpj akhirnya langsung turun gas😆

5. Fitur-fitur yang membantu (tapi merepotkan juga) seperti auto cancel buat lampu sein, yang membuat mirip seperti naik mobil.
Fitur ini cukup membantu tapi tidak jarang juga merepotkan, stang baru goyang dikit tapi malah sudah keburu mati. Sebaliknya kalau ada tikungan yg tidak terlalu tajam, lampu sein malah tidak mati😆
Ada juga sensor lainnya, seperti sensor accu, sensor suhu mesin, sensor oli mesin, dan sensor saringan udara, serta sensor standar samping. Nah dari kesemua sensor tadi saya hanya bermasalah dengan sensor aki yang hobi kedip kalau di lampu merah😦, tapi teman-teman saya ada yang sensor-sensornya hobi berkedip saat huja (sensor oli dan sensor saringan udara) dan ada juga yang sensor standar sampingnya hidup terus😆 ).
Terus ada juga fitur untuk langsung switch on ke lampu jauh saat lampu dekat putus. Untuk yang ini sempat membuat saya panik, tiba-tiba pindah ke lampu jauh tapi pakai acara berkedip (tidak menyala terus menerus) dan baru sadar kalau itu adalah fiturnya. Untuk sensor yang ini sempat membuat beberapa teman saya mengalami retak mika lampu atas, kayaknya sih gara-gara mika lampu kurang kuat menahan panas lampu Hallogen H7

6. Fuel consumption saat ini hanya berkisar 33-35 km/liter.
Sebenarnya cukup irit, apalagi dibanding scorpio yang kira-kira hanya 28 km/liter. Sampai akhir tahun 2012 sih kayaknya masih skitar 38 km/liter, mungkin gara-gara pasang koil scorpio:mrgreen:

7. Penyakit pulsar selama 1,5 tahun ini relatif cukup banyak:mrgreen: apalagi dibanding scorpio dengan umur yang sama
Penyakit pertama yang adalah bendik starter elektrik wafat di usia 3 bulan, alhasil susah-susah gampang untuk menghidupkan starter (pas kepepet harus di korsletkan), klaim ke beres langsung beres😀
Penyakit kedua adalah fitur bawaan pabrik yaitu fairing getar, yang ini tinggal lapisi tiap sambungan fairing dengan double tape atau lakban yang agak tebal, beres sudah.
Penyakit ketiga adalah mika headlamp bagian atas yang agak retak sedikit, entah kenapa tiba-tiba agak retak😦

Penyakit pulsar 220, sering banget ada mika retak

Penyakit pulsar 220, sering banget ada mika retak

Penyakit keempat adalah setelah kurang lebih setahun pemakaian tiba-tiba ada fitur projie getar -_-. Yang ini cukup membuat risih walau tidak menggangu, cahaya dari projie bergetar lumayan di rpm 4000-6000. Belum terselesaikan, rencana jika sudah ada dana dan waktu, mau bongkar headlamp sekalian pasang angel eye😀
Penyakit kelima adalah indikator lampu sein yang sering korslet dan menyala sewaktu terkena hujan badai:mrgreen:
Penyakit keenam adalah cakram depan yang sedikit mengunci sebelah dan piringan cakram yang kurang balance. Akhirnya servis rem depan sekalian rem belakang.
Piringan cakramnya sempat di ketok di bengkel pak Merry, cukup lumayan tidak terlalu mengganggu tapi saya tetap tidak puas (perfeksionis :p), akhirnya ganti rem cakram depan dari ninja 150 RR hasil dagangan juragan pritilan Om Aji Dipo
Penyakit ketujuh adalah velg belakang yang kurang balance, waktu dyno bersama teman-teman, saya jadi sadar velg belakang saya tidak balance😦, akhirnya meluncur lagi ke bengke Pak Merry, hasilnya?entahlah tidak terlalu merasakan goncangan, kayaknya si sudah beres😀

Untuk modifikasi sih saya tidak banyak, masih menyukai tipe standar, hanya sedikit minor change saja. Beberapa ubahan yang saya lakukan di pulsar 220:
1. Sempat beli fairing bawaan beres, tapi akhirnya ga dipakai, cuma dipasang yang mud guardnya saja :p
2. Lampu HID 45 watt ballast 55 watt
3. Lampu dual on, standar nya lampu jauh dan dekat akan menyala bergantian, sekarang dua-duanya bisa menyala bersamaan jika masuk ke lampu jauh😀

p220 ane udah dual on nih (pamer) :p

p220 ane udah dual on nih (pamer) :p

4. CDI reaktor, akselerasi lebih yahud tapi tambah boros juga :p
5. Koil 5BP scorpio plus groundstrap untuk kedua koil. Tarikan lebih mantap lagi tapi borosnya juga lebih terasa. Apalagi tangan makin tidak bisa diajari pelan😆
6. Cakram depan ninja 150 RR, PnP tinggal buat breketnya saja😀

cakram depan ninja 150 RR, pnp :D

cakram depan ninja 150 RR, pnp😀

7. Tambahan voltmeter KOSO, lagi-lagi dari juragan pritilan om Aji:mrgreen:, lumayan buat cek accu, mengingat tidak ada starter kaki. Kalau sampai mogok, kan repot dorong kebo besar nan berat seperti ini:mrgreen:
8. Lampu senja dan lampu sein LED, lumayan untuk mengurangi beban listrik.😀
9. Engine guard mini punya pabrikan asli, mini sih..sebenarnya kurang yakin juga, tapi apa boleh buat, demi bisa tetap memasang EG plus mud guard:mrgreen:

Mungkin ini saja yah..kayaknya saya bahasnya cuma antara pulsar, scorpio, HID, maklum..nubie nih..tidak ada bahan :p

Meski pulsar saya cukup banyak masalah (cuma masalah kecil sih),dan juga nasib BAI yang tidak jelas, tapi sejujurnya saya sangat menikmati memakai pulsar 220 ini, jauh lebih menikmati daripada sewaktu memakai scorpio.

Bagi biker pulsar, nikmati saja, jangan diambil pusing. Harga jual jatuh harusnya sudah disadari dari awal membeli, termasuk kondisi BAI yang belum mapan sehingga pasti ada potensi sparepart dan bengkel susah.

 
39 Comments

Posted by on 21 April 2013 in Otomotif

 

Tags: , , , , , , , , ,